Tiang Penyangga

Posted by Maestro xcdo on Tuesday, September 18, 2012

Umumnya setiap bangunan mempunyai tiang yang fungsinya sebagai penyangga. Pada bangunan jaman dahulu akan selalu dipasang tiang sebagai penyangganya. Kita lihat saja bangunan kraton, Joglo Jawa dan bangunan kuno lainnya, baik yang berasal dari dalam maupun luar negeri. Dapat kita lihat, tiang berdiri untuk menyangga yang di sebagian daerah lain dapat berfungsi sebagai pondasi.
Bangunan lama biasanya bertiang kayu besar atau tiang kayu kecil. Ada bangunan yang tiangnya dibuat menggunakan kayu pohon – biasanya kayu jati – yang utuh sehingga tampak terlihat kokoh. Bangunan modern ada yang masih memperlihatkan tiang penyangganya yang terbuat dari beton sehingga terkesan artistik dan klasik.
Meski tidak semua bangunan ada tiangnya, namun hampir semua bangunan dibuat menggunakan tiang penyangga. Pada bangunan modern, tiang memang tidak selalu tampak terlihat. Tiang bangunan dalam hal ini sudah digantikan dengan beton cor yang menjadi satu dengan tembok. Demikian pula pondasinya dibuat sedemikian rupa sehingga mampu menyangga dinding bangunan.
Istana negara merupakan salah satu contoh bangunan bertiang. Kita dapat melihat tiangnya dari luar pagar istana. Demikian pula gedung putih di Amerika Serikat,t iangnya nampak sekali dapat disaksikan dari luar. Kalau kita berkunjung ke Keraton Yogyakarta, di pagelarannya akan kita jumpai sejumlah tiang untuk menyangga pagelaran tersebut. Belum lagi yang di bangunan utamanya.
Tiang yang sering disebut juga pilar, atau orang Jawa sering menyebutnya dengan “cagak” ternyata tak hanya dipergunakan sebagai penyangga bangunan saja. Kapal-kapal tempo dulu juga mempergunakan tiang untuk mengembangkan layarnya. Tanpa tiang, maka layar tak akan terkembang sehingga kapal pun tak akan bisa berlayar dengan baik. Lain dengan kapal api atau kapal bermesin yang sudah memakai bahan bakar untuk menjalankannya.
Selain itu semua, tiang pun banyak berdiri di sepanjang jalan baik di kota ataupun di desa. Tiang listrik, tiang telepon, tiang lampu, tiang rambu lalu lintas sampai “tiang sae” atau yang “mboten sae” (Jawa, sae = baik) dapat kita jumpai hampir dimanapun kita berada. Tiang banyak bertebaran di mana saja dan rata-rata terbuat dari besi fungsinya sebagai penyangga seperti kabel PLN atau telkom.
Dalam sebuah hadits, sholat dikatakan sebagai tiangnya agama. Sedang dalam kehidupan keluarga ibu adalah tiangnya rumah tangga. Lalu dalam kehidupan bernegara ada ungkapan yang mengatakan bahwa wanita adalah tiang negara. Maka tiang menjadi sangat penting bukan saja sebagai penyangga sebuah bangunan maupun kapal layar, apalagi kabel listrik atau kabel telepon. Lebih dari itu tiang memiliki peran yang tidak bisa diabaikan dalam kehidupan beragama, berkeluarga dan bernegara.

Kalau tiangnya lemah atau ambruk maka sesuatu yang disangganya juga akan runtuh. Bahkan manusia pun mempunyai tiang yang khas dan unik untuk menyangga sesuatu yang dimilikinya. Misalnya saja kepala, tiangnya bukanlah leher atau tengkuk. Tiang penyangga kepala adalah mata.
Bayangkan kalau mata sudah lelah, capai dan mengantuk pasti akan berpengaruh pada kepala. Saat mengantuk pasti kepala akan terasa berat. Orang yang sedang terkantuk-kantuk pasti kepalanya akan tertunduk sampai jatuh, secara pelan-pelan atau mendadak. Pada saat orang tertidur, badannya pun tak akan mungkin tegak lagi.
Hal itu dapat kita lihat pada saat orang sedang jumatan mendengarkan khutbah. Banyak yang terkantuk-kantuk hingga jatuh tertidur. Juga pada sidang umum MPR, banyak yang tertidur karena tiang penyangganya lemah. Kalau mata sudah tak mau lagi diajak melek, kepala pun akan segera pasrah dan ambruk.
Bukan hanya kepala saja yang ada penyangganya. Kaum lelaki juga punya, namanya “pilar tunggal” yang dapat berdiri kokoh kalau fungsinya maksimal. Coba kalau pilarnya lemah atau letoy, pasti fungsinya berkurang bahkan mungkin tidak bisa digunakan. Jika sudah demikian, maka banyak yang memanfaatkan obat-obatan untuk mengambalikan lagi fungsi tiangnya. Selain itu, melakukan servis pilar tunggal ke ahlinya sehingga “pilar tunggal menyangga langit” dapat berdiri tegak lagi. Sayangnya, sekarang Mak Erot sudah tiada lagi.
Tiang atau pilar atau yang orang Jawa bilang “cagak” ini ternyata juga dimiliki oleh kaum perempuan. Tapi jaman sekarang fungsi cagaknya sudah berkurang karena pengaruh modernisasi. Jaman dulu sering dipakai oleh para abdi dalem perempuan yang memakai kemben (kain jarik).  Kemben merupakan selembar kain yang secara keseluruhan menutupi dada dan membiarkan pundak terbuka.
Kemben sebagai busana tradisional yang biasa digunakan oleh abdi dalem perempuan ini pun perlu dikasih cagak agar tidak melorot. Biasanya kain dililitkan atau digulung lalu berakhir (dislempitkan) di daerah dada perempuan, pas di tengahnya. Seperti kaum perempuan yang mandi pakai kain  itu lho…
Nah, sekarang Anda sudah tahu yang mana “cagak kemben” atau “pilar tunggal menyangga langit”…???

Like this thanks:

Popular post